Nama: Efi Septianingsih
NIM: 17701251013
Penelitian dan Evaluasi Pendidikan
Kelas B
Ini merupakan refleksi ke enam saya Rabu, 7 November
2017, semoga dari sebagian yang saya refleksikan mampu berguna bagi pembaca dan
khususnya saya sendiri berdasarkan refleksian yang telah saya buat ini. Selamat
membaca. Sekali lagi saya benar-benar terngiang kalimat yang Prof utarakan
“pikiran boleh kacau, tapi hati jangan”.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Lagi-lagi pertemuan yang diawali dengan jawab singkat
Pada pertemuan kali ini saya telat masuk ke dalam kelas dan hasilnya saya
banyak ketinggalan soal, finally saya bertanya dan meminta rekaman dari rekan
saya untuk mengetahui apa saja yang menjadi pertanyaan dan pembahasan diawal
pertemuan
Berikut merupakan uraian yang terjadi pada awal pertemuan:
1. Dialah Satre, sang tokoh pencetus “kosong
2. "Dialah Plato, dialah tokohnya “isi”
3. Maka sudah pastilah Plato juga yang menjadi tokoh “wadah”
4. Dialah Karl Marx, hadir sebagai tokohnya “tanah”
5. Dan batu, tokohnya “batu”, jugalah Karl Marx
6. Muncul juga Herarkleitos, sang tokoh
“berubah”
7. Dan ternyata ada berubah, ada pula tetap. Dialah Parmenides, dialah
tokohnya “tetap”
8. Mencoba. Bahkan “mencoba” sudah menjadi aliran filsafat yang mutakhir.
Artinya, “mencoba” pun sudah menjadi buah pemikiran tokoh filsuf terdahulu.
Adalah David Hume, dialah tokohnya “mencoba”
9. Selanjutnya, diri ini pun dikenalkan dengan Renedescartes, dialah empunya
“fiksi”
10. Ada juga Socrates, yang hadir memperkenalkan diri sebagai tokohnya
“bertanya”
11. Maka menjadi sebuah pola hubungan, jika tokohnya “menjawab” adalah Socrates
jua. Karena sudah pasti ada yang bertanya, akan ada pula yang menjawab.
12. Adalah Husrel yang hadir sebagai tokohnya “peduli”
13. Husrel pulalah yang kembali hadir sebagai tokoh “memilih”
14. Dan Imanuel Kant pun muncul, memperkenalkan dirinya, bahwa dirinya lah sang
tokoh “transenden”
15. Selanjutnya, muncul lagi filsuf lainnya. Adalah Aristoteles sebagai tokoh
“saklek”
16. Kali ini, David Hume memperkenalkan dirinya kembali, sebagai tokoh yang
berbeda dari sebelumnya yang telah dituliskan di atas. Kali ini David Hume
muncul sebagai tokoh “mencoba”
17. Kali ini dibicarakan tentang “salah”. “Salah” adalah “benar”. Dialah
Lakatos sebagai tokohnya
18. Selanjutnya adalah Nitze. Dialah filsuf yang hadir dan memperkenalkan
dirinya sebagai sang tokoh “yang mungkin ada”
19. Adalah Imanuel Kant, yang kembali memperkenalkan diri sebagai empunya
noumena. Dialah tokohnya “di luar kenyataan”
20. Adalah Helbert, dialah tokohnya “formal”
21. Kemudian, hadirlah Hegel yang memperkenalkan dirinya sebagai sang tokoh “sejarah”
22. Hadir kembali Renedescartes, memperkenalkan dirinya yang lainnya, yaitu
sebagai tokoh “ragu-ragu”
23. Dan ada juga Wittgenstein yang hadir memperkenalkan diri sebagai tokohnya
“permainan bahasa”
24. Dan lagi, Imanuel Kant hadir memperkenalkan dirinya yang lainnya, sebagai
tokohnya “kontradiksi”
Berdasarkan tes jawab singkat tersebut lagi-lagi saya mendapat nilai 0
walaupun saya sudah membaca dan mengomentari blog, tapi ingatan saya dan juga
kekurangan saya masih banyak, saya harus lebih giat lagi dalam bidang ingatan,
dikarenakan saya sulit untuk menghafal nama dan juga sulit untuk menggingat
tahun, namun saya memingat peristiwa yang terjadi jika saya membaca ataupun mengalaminya
Baca baca baca
Mungkin benar adanya bila perbanyak practice akan menjadikan kekurangan
menjadi kelebihan
Semoga saja saya bisa dan mampu
semangArt
Tidak ada komentar:
Posting Komentar