Selasa, 02 Januari 2018

e n a m

Nama: Efi Septianingsih
NIM: 17701251013
Penelitian dan Evaluasi Pendidikan
Kelas B





Ini merupakan refleksi ke enam saya Rabu, 1 November 2017, semoga dari sebagian yang saya refleksikan mampu berguna bagi pembaca dan khususnya saya sendiri berdasarkan refleksian yang telah saya buat ini. Selamat membaca. Sekali lagi saya benar-benar terngiang kalimat yang Prof utarakan “pikiran boleh kacau, tapi hati jangan”.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Berdasarkan https://www.eurekapendidikan.com/2014/10/pengertian-ontologi-dalam-filsafat-ilmu.html yang diunggah pada tanggal 3 Januari 2018,  Ontologi merupakan salah satu dari tiga kajian Filasafat Ilmu yang paling kuno dan berasal dari Yunani. Studi ontologi yang membahas sesuatu yang bersifat nyata, konkret. Tokoh Yunani yang memiliki pemikiran yang bersifat ontologis yang terkenal adalah Thales, Plato, dan Aristoteles. Pada masa yunani ketika mithology masih memeiliki pengaruh yang kuat, kebanyakan orang belum mampu membedakan antara penampakan dengan kenyataan. Bahkan pada masa tersebut ada banyak hal yang masih mengkaji kejadian alam dalam bentuk mistis sebagai penanggung jawab dari fenomena alam yang sulit untuk dimengerti.

Dikelas pun beliau mengajarkan tentang ontologi yang merupakan sesuatu yang nyata, bisa thesis dan anti thesis yang menjadikan manusia memiliki kemampuan untuk mengetahui lebih baik. Sejujurnya saya masih kurang memahami apa yang menjadikan manusia jadi ada, pengada dan berintuisi dengan membaca blog dan mendengarkan apa yang beliau sampaikan didalam kelas menjadikan tingkatan logos saya menjadi lebih berguna, karena filsafat itu berdasarkan filsafat diri sendiri.

Sampai dimana tingkatan yang menjadikan manusia baik bahkan kurang baik itu sesuai dengan baik mu itu sendiri, jika kamu mengatakan hal itu baik maka menjadi baik pula hal tersebut, dan jika kamu mengatakan hal tersebut kurang baik maka jadi kurang baik pula hal tersebut.

Seperti yang terdapat pada postingan di blog banyak sekali yang bisa diangkat pada refleksi filsafat ilmu, karena semuanya berkontribusi, saling berkaitan dan saling memiliki peran, sesuai dengan apa, bagaimana dan mengapa kita menggunakan yang sudah ada.

Balik lagi kepada ontologi filsafat, saya sendiri masih terkadang sering lalai akan hal tersebut dikarenakan berbeda ruang dan waktu berbeda pula cara saya untuk nunjukan apa, peran yang sesuai dengan lawan saya bertemu.

Sepertinya refleksi ini belum selesai, mungkin akan saya lanjutkan lagi dengan  refleksi selanjutnya yang akan menjadikan saya dan juga pembaca mudah untuk memahami apa yang saya ingin sampaikan

Karena sebenar-benarnya penyampaian sesuai dengan penerima itu sendiri mau berpendapat dan mendapat apa dari yang dibaca, dilihat, didengar dan dirasakan.



semangArt


Tidak ada komentar:

Posting Komentar