Nama: Efi Septianingsih
NIM: 17701251013
Penelitian dan Evaluasi Pendidikan
Kelas B
Ini merupakan refleksi ke tujuh saya Rabu, 15 November
2017, semoga dari sebagian yang saya refleksikan mampu berguna bagi pembaca dan
khususnya saya sendiri berdasarkan refleksian yang telah saya buat ini. Selamat
membaca. Sekali lagi saya benar-benar terngiang kalimat yang Prof utarakan
“pikiran boleh kacau, tapi hati jangan”.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Solusi untuk meningkatkan efektifitas
pendidikan adalah dengan melakukan inovasi pembelajaran. Inovasi pembelajaran
merupakan jawaban strategis untuk mengimbangi perkembangan pendidikan dengan
pendekatan masalitas selama ini, sekaligus menjawab tantangan dunia pendidikan
dalam membina manusia Indonesia seutuhnya. Semua ini membutuhkan dukungan dari
berbagai pihak yang terkait dengan pendidikan dalam melakukan inovasi pemelajaran seperti
apa yang dimaksud secara real dan secara kebutuhan pembelajaran namun
berdasarkan pengamatan, sesorang pendidik indonesia yang benar2 pendidik
menurut saya yang mengabdi didaerah tertinggal untuk membangun sekolah dan
pembelajaran disana, bukan hanya menunggu bantuan datang dari pemerintah daerah
atau lainnya, melainkan tenaga pengajar itu sendiri. dan tidak menutup
kemungkinan seharusnya mereka lebih diberikan tunjangan gaji yang lebih, karena
minimnya akses dan sulitnya jalan untuk memasuki area pemukiman warga, bahkan untuk mencari
listrik (mengecas hp dll) dan air bersih pun jauh dari pemukiman warga bisa
menempuh jarak kurang lebih 3 jam
indonesia sudah banyak sekali tenaga
pendidik yang lulus diibu kota atau kota pelajar jogja ini, namun wadah untuk
mereka bertahan hidup pun sulit oleh karena itu mereka bekerja apa saja yang
penting perut terisi dahulu
dalam pengembangan lptk pendidikan guru,
sudah jelas kritikannya, saran dll ditujukan kepada siapa? tinggal maju untuk
menggerakkan tenaga pendidik
karena orang indonesia terbiasa malas
menggerjakan sesuatu dan berharap yang mudah namun menggasilkan yang baik, oleh
karena itu yang pengeritik lebih banyak dari pada pembuat gerakan yang benar2
mau terjun langsung
pernyataan diatas
merupakan suatu gambaran bagi saya dikarenakan belajar dengan berfisafat itu
mudah, sulit, sukar, namun bisa saja
lekang dikarenakan pendidikan yang semakin meju, dan di Indonesia banyak sekali
daerah2 yang masih benar-benar membutuhkan asupan fasilitas dan fasilitator
dalam berfilsafat banyak
sekali yang diajarkan oleh Prof. Marsigit tentang bagaimana menjadi filsuf
untuk diri sendiri dalam berfilsafat, kembali lagi pada elegi, apa yang sebenarnya
pendidikan filsafat ilmu berdasarkan Prof. Marsigit, karena saya sebagai
mahasiswa masih benar-benar memiliki kekurangan dan juga kekurang fasihan dalam
mengingat nama dan kutipan, saya benar2 benar harus belajar ekstra pada
filsafat ilmu ini sendiri.
Bukannya saya mengabaikan
mata pelajaran lain, melainkan saya mencari solusi bagaimana untuk bisa
memahani dan akhirnya saya semakin sulit untuk memahami.
Bagaimana takaran
mahasiswa dikatatan memahami dan mendapat point tinggi untuk berfilsafat? Jika dengan
ikhlas sesuai dengan kekuatan masing-masing mahasiswa dalam menerima
penyampaian materi menurut saya masih kurang bisa untuk bisa dipahami
Karena saya lebih sering
kacau dan akhirnya hanya mampu meneripa apa yang bisa saya terima dan yang belum
bisa saya terima tidak saya paksakan, dikarenakan mungkin belum sampai pada
taraf itu saya untuk memahami apa yang harusnya saya pahami
Seperti peran paralogos,
semoga saya mampu untuk selalu menuntut ilmu sesuai dengan tingkatan saya
Aamiin ya Allah
semangArt
Tidak ada komentar:
Posting Komentar