Selasa, 02 Januari 2018

d e l a p a n

Nama: Efi Septianingsih
NIM: 17701251013
Penelitian dan Evaluasi Pendidikan
Kelas B



Ini merupakan refleksi ke tujuh saya Rabu, 15 November 2017, semoga dari sebagian yang saya refleksikan mampu berguna bagi pembaca dan khususnya saya sendiri berdasarkan refleksian yang telah saya buat ini. Selamat membaca. Sekali lagi saya benar-benar terngiang kalimat yang Prof utarakan “pikiran boleh kacau, tapi hati jangan”.

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Solusi untuk meningkatkan efektifitas pendidikan adalah dengan melakukan inovasi pembelajaran. Inovasi pembelajaran merupakan jawaban strategis untuk mengimbangi perkembangan pendidikan dengan pendekatan masalitas selama ini, sekaligus menjawab tantangan dunia pendidikan dalam membina manusia Indonesia seutuhnya. Semua ini membutuhkan dukungan dari berbagai pihak yang terkait dengan pendidikan dalam melakukan inovasi pemelajaran seperti apa yang dimaksud secara real dan secara kebutuhan pembelajaran namun berdasarkan pengamatan, sesorang pendidik indonesia yang benar2 pendidik menurut saya yang mengabdi didaerah tertinggal untuk membangun sekolah dan pembelajaran disana, bukan hanya menunggu bantuan datang dari pemerintah daerah atau lainnya, melainkan tenaga pengajar itu sendiri. dan tidak menutup kemungkinan seharusnya mereka lebih diberikan tunjangan gaji yang lebih, karena minimnya akses dan sulitnya jalan untuk memasuki area pemukiman warga, bahkan untuk mencari listrik (mengecas hp dll) dan air bersih pun jauh dari pemukiman warga bisa menempuh jarak kurang lebih 3 jam
indonesia sudah banyak sekali tenaga pendidik yang lulus diibu kota atau kota pelajar jogja ini, namun wadah untuk mereka bertahan hidup pun sulit oleh karena itu mereka bekerja apa saja yang penting perut terisi dahulu
dalam pengembangan lptk pendidikan guru, sudah jelas kritikannya, saran dll ditujukan kepada siapa? tinggal maju untuk menggerakkan tenaga pendidik
karena orang indonesia terbiasa malas menggerjakan sesuatu dan berharap yang mudah namun menggasilkan yang baik, oleh karena itu yang pengeritik lebih banyak dari pada pembuat gerakan yang benar2 mau terjun langsung

pernyataan diatas merupakan suatu gambaran bagi saya dikarenakan belajar dengan berfisafat itu mudah, sulit, sukar, namun  bisa saja lekang dikarenakan pendidikan yang semakin meju, dan di Indonesia banyak sekali daerah2 yang masih benar-benar membutuhkan asupan fasilitas dan fasilitator
dalam berfilsafat banyak sekali yang diajarkan oleh Prof. Marsigit tentang bagaimana menjadi filsuf untuk diri sendiri dalam berfilsafat, kembali lagi pada elegi, apa yang sebenarnya pendidikan filsafat ilmu berdasarkan Prof. Marsigit, karena saya sebagai mahasiswa masih benar-benar memiliki kekurangan dan juga kekurang fasihan dalam mengingat nama dan kutipan, saya benar2 benar harus belajar ekstra pada filsafat ilmu ini sendiri.
Bukannya saya mengabaikan mata pelajaran lain, melainkan saya mencari solusi bagaimana untuk bisa memahani dan akhirnya saya semakin sulit untuk memahami.
Bagaimana takaran mahasiswa dikatatan memahami dan mendapat point tinggi untuk berfilsafat? Jika dengan ikhlas sesuai dengan kekuatan masing-masing mahasiswa dalam menerima penyampaian materi menurut saya masih kurang bisa untuk bisa dipahami
Karena saya lebih sering kacau dan akhirnya hanya mampu meneripa apa yang bisa saya terima dan yang belum bisa saya terima tidak saya paksakan, dikarenakan mungkin belum sampai pada taraf itu saya untuk memahami apa yang harusnya saya pahami
Seperti peran paralogos, semoga saya mampu untuk selalu menuntut ilmu sesuai dengan tingkatan saya
Aamiin ya Allah


semangArt

Tidak ada komentar:

Posting Komentar