Nama: Efi Septianingsih
NIM: 17701251013
Penelitian dan Evaluasi Pendidikan
Kelas B
Ini merupakan refleksi ke sembilan saya Rabu, 22 November
2017, semoga dari sebagian yang saya refleksikan mampu berguna bagi pembaca dan
khususnya saya sendiri berdasarkan refleksian yang telah saya buat ini. Selamat
membaca. Sekali lagi saya benar-benar terngiang kalimat yang Prof utarakan
“pikiran boleh kacau, tapi hati jangan”.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Berdasarkan http://www.negarahukum.com/hukum/pengertian-hermeneutika.html
yang diunggah pada tanggal 3 Januari 2018 Hermeneutika adalah Jacques Derrida (Munir Fuadi: 2005), filsuf postmodern yang
terkenal dengan teorinya “dekonstruksi”
menolak anggapan kaum realis yang menyatakan bahwa bahasa menunjukan
realitas yang sebenarnya sehingga bahasa dapat menyingkap suatu kebenaran yang
pasti. Jacques Derrida beranggapan bahwa bahasa tidak dapat mengungkapkan
realita yang sesungguhnya, karena itu diperlukan penggunaan penafsiran terhadap
teks tertulis yang disebut dengan hermeneutika. Secara etimologi, kata
hermeneutik berasal dari bahasa Yunani hermeneuein yang berarti menafsirkan.
Maka kata benda heremenia secara harfia dapat diartikan sebagai penafsiran atau
interpretasi. Istilah ini diambil dari mitologi Yunani pada tokoh yang bernama
Hermes, yaitu seorang utusan yang mempunyai tugas menyampaikan pesan Jupiter
kepada manusia. Hermes digambarkan sebagai seorang yang mempunyai kaki
bersayap, dan lebih banyak dikenal dengan sebutan Mercurius dalam bahasa latin.
Tugas Hermes adalah menerjemahkan pesan-pesan dari dewa di Gunung Olympus ke
dalam bahasa yang dapat dimengerti oleh umat manusia. Oleh karena itu fungsi
hermes adalah penting sebab bila terjadi kesalahpahaman tentang pesan
dewa-dewa, akibatnya akan fatal bagi seluruh umat manusia. Hermes harus mampu
menginterpretasikan atau menyadur sebuah pesan yang dipergunakan oleh
pendengarnya. Oleh karena itu hermeneutika pada akhirnya diartikan sebagai
”proses mengubah sesuatu atau situasi ketidak tahuan menjadi mengerti” (Richard
E. Palmer, 1969:3).
Hermeneutika hidup membawa kita pada pemandangan gunung-gunung. Gunug itu
berstruktur. Terlihat tinggi dan menakutkan bahkan mematikan. Yang menakutkan
dari diri kita masing-masing adalah determinisnya, kuasanya. Jika dalam
pembelajaran terlihat ketika guru melimpahkan determinis-determinisnya. Ketika
guru otoriter, maka adalah bahaya, karena dia sedang meluapkan limpahan
lava-lavanya pada murid-muridnya. Maka luncuran gunung itu bisa jadi bencana
atau tidak tergantung posisinya. Jawabannya adalah persepsi dan persiapan.
Ingat temanku, jika kita siap mengahadapinya, maka bencana bisa jadi barokah.
Banyaks sekali yang bisa diangkat pada herneutika kahidupan pada
pembelajaran filsafat ilmu kali ini dikarenakan yang menjadi api akan selalu
menginginkan lebih yaitu kobaran, dan yang menjadi air akan menginkan lebih
yaitu gumpalan.
Apa yang bisa dipertik dalam pembelajaran filsafat ilmu menjadikan manusia
menjadi semakin egois dengan apa yang mereka inginkan, seperti orangtua
menginginkan lebih kepada anak, guru menginginkan lebih kapada murid begitu
pula dengan tingkat hedonisme yang sedang menyerang banyak sekali warga
didunia, bukan hanya di Indonesia
Semoga saja apaun yang menajdi kedamaian mereka bisa menjadikan mereka
damai, bukan hanya karena ego, gensi dan loyalitas semata.
Melainkan untuk kedamaian batin dan pikiran mereka sendiri.
semangArt
Tidak ada komentar:
Posting Komentar