Selasa, 02 Januari 2018

s e m b i l a n

Nama: Efi Septianingsih
NIM: 17701251013
Penelitian dan Evaluasi Pendidikan
Kelas B



Ini merupakan refleksi ke sembilan saya Rabu, 22 November 2017, semoga dari sebagian yang saya refleksikan mampu berguna bagi pembaca dan khususnya saya sendiri berdasarkan refleksian yang telah saya buat ini. Selamat membaca. Sekali lagi saya benar-benar terngiang kalimat yang Prof utarakan “pikiran boleh kacau, tapi hati jangan”.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Berdasarkan http://www.negarahukum.com/hukum/pengertian-hermeneutika.html yang diunggah pada tanggal 3 Januari 2018 Hermeneutika adalah Jacques Derrida  (Munir Fuadi: 2005), filsuf postmodern yang terkenal dengan teorinya “dekonstruksi”  menolak anggapan kaum realis yang menyatakan bahwa bahasa menunjukan realitas yang sebenarnya sehingga bahasa dapat menyingkap suatu kebenaran yang pasti. Jacques Derrida beranggapan bahwa bahasa tidak dapat mengungkapkan realita yang sesungguhnya, karena itu diperlukan penggunaan penafsiran terhadap teks tertulis yang disebut dengan hermeneutika. Secara etimologi, kata hermeneutik berasal dari bahasa Yunani hermeneuein yang berarti menafsirkan. Maka kata benda heremenia secara harfia dapat diartikan sebagai penafsiran atau interpretasi. Istilah ini diambil dari mitologi Yunani pada tokoh yang bernama Hermes, yaitu seorang utusan yang mempunyai tugas menyampaikan pesan Jupiter kepada manusia. Hermes digambarkan sebagai seorang yang mempunyai kaki bersayap, dan lebih banyak dikenal dengan sebutan Mercurius dalam bahasa latin. Tugas Hermes adalah menerjemahkan pesan-pesan dari dewa di Gunung Olympus ke dalam bahasa yang dapat dimengerti oleh umat manusia. Oleh karena itu fungsi hermes adalah penting sebab bila terjadi kesalahpahaman tentang pesan dewa-dewa, akibatnya akan fatal bagi seluruh umat manusia. Hermes harus mampu menginterpretasikan atau menyadur sebuah pesan yang dipergunakan oleh pendengarnya. Oleh karena itu hermeneutika pada akhirnya diartikan sebagai ”proses mengubah sesuatu atau situasi ketidak tahuan menjadi mengerti” (Richard E. Palmer, 1969:3).

Hermeneutika hidup membawa kita pada pemandangan gunung-gunung. Gunug itu berstruktur. Terlihat tinggi dan menakutkan bahkan mematikan. Yang menakutkan dari diri kita masing-masing adalah determinisnya, kuasanya. Jika dalam pembelajaran terlihat ketika guru melimpahkan determinis-determinisnya. Ketika guru otoriter, maka adalah bahaya, karena dia sedang meluapkan limpahan lava-lavanya pada murid-muridnya. Maka luncuran gunung itu bisa jadi bencana atau tidak tergantung posisinya. Jawabannya adalah persepsi dan persiapan. Ingat temanku, jika kita siap mengahadapinya, maka bencana bisa jadi barokah.

Banyaks sekali yang bisa diangkat pada herneutika kahidupan pada pembelajaran filsafat ilmu kali ini dikarenakan yang menjadi api akan selalu menginginkan lebih yaitu kobaran, dan yang menjadi air akan menginkan lebih yaitu gumpalan.
Apa yang bisa dipertik dalam pembelajaran filsafat ilmu menjadikan manusia menjadi semakin egois dengan apa yang mereka inginkan, seperti orangtua menginginkan lebih kepada anak, guru menginginkan lebih kapada murid begitu pula dengan tingkat hedonisme yang sedang menyerang banyak sekali warga didunia, bukan hanya di Indonesia
Semoga saja apaun yang menajdi kedamaian mereka bisa menjadikan mereka damai, bukan hanya karena ego, gensi dan loyalitas semata.
Melainkan untuk kedamaian batin dan pikiran mereka sendiri.



semangArt 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar