“Hey, cencorangku sedang apa kamu?”
Tak ada jawaban yang ku dengar hanya kesunyian, ku
panggil kembali namun tetap tak ada sepatah katapun yang terdengar, lalu
ketengok dari pintu kamarmu yang sedikit terbuka itu, ternyata dirimu sedang
tertidur pulas. Manis, menggemaskan dan menggiurkan untuk ku goda, dengan nakal
ku belai wajahmu. Ku lihat lebih dalam nampak jelas raut wajahmu muram, ada apa
dengan raut wajahmu itu? Entah apa yang telah merusak dan mengganggu mimpi
indahmu.
Ku usap wajah tampan mu dengan lembut, berharap
tidurmu lebih damai seperti dahulu ketika kamu tertidur pulas dipangkuanku,
sayangnya wajah tampan mu tetap muram. Ku panjatkan doa kepada Tuhan agar di
dalam mimpimu hadir kedamaian yang mampu membuat mimpi mu indah karena aku
rindu senyum simpul di bibir mu dan aku ingin melihatnya sekali lagi saja.
Wajah cencorang laki-laki ini selalu berhasil
menarik diri ku agar lebih dekat dengannya, apa ini yang dinamakan takdir? Aku
sendiri tak pernah tahu apa yang telah di gariskan Tuhan untuk ku, namun
bersama dengannya seperti ini membuatku percaya bahwa takdir untuk ku mencintaimu
adalah satu anugrah Tuhan untukku.
Semakin lekat tubuh ini dengan ragamu, aku ingin
mencuri mimpiku agar berpindah menjadi mimpi-mimpi manis yang ku miliki
bersamamu. Tuhan, mengapa cencorangku berwajah murung seperti ini? Aku tak
ingin dia bersedih apalagi terluka. Ku rebahkan tubuh ini disampingnya,
melihatnya dengan seksama dan refleks ku dekap ia erat dalam pelukanku , tetap
seperti dan ku mohon hanya dengan cencorangku dapat bermimpi indah dan semua
mimpi buruk yang dimilikinya sirna terbakar hangatnya dekapan yang ku berikan
kepadanya.
Ku kecup bibir mu dengan lebut, kemudian mata indah
mu terbuka secara perlahan, dan kita saling menatap. Pelukan sesaat di balas
dengan pelukan hangat, kecupan singkat dibalas dengan ciuman mesra, itu yang
pernah kamu katakan. Sontak kamu membalas pelukanku dengan pelukan terhangat
milikmu, aku bahagia hari ini bahkan teramat sangat bahagia karena ini aku
merindukanmu, layaknya beberapa bulan silam sebelum aku terjatuh dan tenggelam
di laut Sumatera hingga membuat nadiku berhenti berdetak.
Yogyakarta,
2 April 2015, 02:23 AM
Tidak ada komentar:
Posting Komentar