Kamis, 04 Juni 2015

Cencorang

“Hey, cencorangku sedang apa kamu?”
Tak ada jawaban yang ku dengar hanya kesunyian, ku panggil kembali namun tetap tak ada sepatah katapun yang terdengar, lalu ketengok dari pintu kamarmu yang sedikit terbuka itu, ternyata dirimu sedang tertidur pulas. Manis, menggemaskan dan menggiurkan untuk ku goda, dengan nakal ku belai wajahmu. Ku lihat lebih dalam nampak jelas raut wajahmu muram, ada apa dengan raut wajahmu itu? Entah apa yang telah merusak dan mengganggu mimpi indahmu.
Ku usap wajah tampan mu dengan lembut, berharap tidurmu lebih damai seperti dahulu ketika kamu tertidur pulas dipangkuanku, sayangnya wajah tampan mu tetap muram. Ku panjatkan doa kepada Tuhan agar di dalam mimpimu hadir kedamaian yang mampu membuat mimpi mu indah karena aku rindu senyum simpul di bibir mu dan aku ingin melihatnya sekali lagi saja.
Wajah cencorang laki-laki ini selalu berhasil menarik diri ku agar lebih dekat dengannya, apa ini yang dinamakan takdir? Aku sendiri tak pernah tahu apa yang telah di gariskan Tuhan untuk ku, namun bersama dengannya seperti ini membuatku percaya bahwa takdir untuk ku mencintaimu adalah satu anugrah Tuhan untukku.
Semakin lekat tubuh ini dengan ragamu, aku ingin mencuri mimpiku agar berpindah menjadi mimpi-mimpi manis yang ku miliki bersamamu. Tuhan, mengapa cencorangku berwajah murung seperti ini? Aku tak ingin dia bersedih apalagi terluka. Ku rebahkan tubuh ini disampingnya, melihatnya dengan seksama dan refleks ku dekap ia erat dalam pelukanku , tetap seperti dan ku mohon hanya dengan cencorangku dapat bermimpi indah dan semua mimpi buruk yang dimilikinya sirna terbakar hangatnya dekapan yang ku berikan kepadanya.
Ku kecup bibir mu dengan lebut, kemudian mata indah mu terbuka secara perlahan, dan kita saling menatap. Pelukan sesaat di balas dengan pelukan hangat, kecupan singkat dibalas dengan ciuman mesra, itu yang pernah kamu katakan. Sontak kamu membalas pelukanku dengan pelukan terhangat milikmu, aku bahagia hari ini bahkan teramat sangat bahagia karena ini aku merindukanmu, layaknya beberapa bulan silam sebelum aku terjatuh dan tenggelam di laut Sumatera hingga membuat nadiku berhenti berdetak.


Yogyakarta, 2 April 2015, 02:23 AM

Tidak ada komentar:

Posting Komentar