Ku ceritakan kembalii kisah kawan wanitaku
Rintik-rintik hujan masih saja menyapa ibu kota
Aku menunggu kawan wanitaku sambil bercermin
Mengenakan baju seadanya dan sedikit ulasan lipstik
kukenakan
Dering telepon ku dengar dan mengangkatnya
Kawan wanitaku sudah sampai didepan rumah
Ia masih tetap seperti dahulu
Sejak tiga tahun berlalu kami tak berjumpa
Ia datang berkunjung ingin bercerita tentang pria
yang telah mencuri hatinya dengan manis
Selayaknya anak gaul ibu kota dengan aksen yang
mulai terdengar asing bagiku
Pria tersebut berasal dari Lampung
Sudah satu tahun terakhir mereka bersama
Kawanku menceritakan perilaku pria tersebut dengan
rinci
Ku tetap menyimak setiap cerita yang ia utaraka
Dapat ku kutipkan
Bahwa pria tersebut pria sukses, muda, dan berkarisma
Pintar bukan kepalang pria tersebut mencuri hati
kawan wanitaku
Dengan semua hal manis yang ia tuangkan dengan
lembut
Namun seketika lenyap dan menjadi tawar
Tak ada gundah yang terucap hanya harapan palsu yang
telah dijanjikan
Membahagiakan untuk siapa?
Berpihak kepada siapa?
Apa semua akan kembali baik-baik saja?
Mencengkram dan bungkam
Mudah sekali semua terlontar dari bibir manis pria
Hingga menjadi racun hati
Air mata
Lagi-lagi mengalir dari bola mata indah seorang
wanita
Yogyakarta,
3 April 2015, 22:15 PM
Tidak ada komentar:
Posting Komentar