Minggu, 07 Juni 2015

C dan O

"Tuh kan nangis lagi hmmmmmm
Udah dibilang Chacha paling nggak suka kamu nangis kaya gini!"
Chacha mengusap air mata yang mengalir di pipi Oki dengan lembut, Chacha bergerak mencari tisu yang ada didalam tasnya. Setelah menemukan, Chacha berbalik ingin menghampiri Oki dan meberikan tisu yang sudah ia genggam.
Namun ketika ia berbalik Oki sudah ada didepannya dan memeluknya dengan teramat erat, lagi-lagi Chacha mampu merasakan detak jantung Oki dengan begitu jelasnya.
"Gue sayang lo bodoh, gue nyaman banget sama lo, kenapa kita nggak bisa nyatu!" Dengan suara sedikit pangau Oki mengatakan semuanya dengan jelas dan masih pelukan mereka semakin erat. Chacha teringat kembali betapa ia menyakiti diri dengan berpura-pura semuanya baik-baik saja, ia hanya ingin Oki tahu bahwa cinta mereka tak akan bisa bersatu. Chacha ingin sekali mengatakan apa yang sebenarnya ia rasakan yang tersimpan rapih didalam lubuk hatinya namun tak akan ia utarakan, karena hal itu tentu saja tak bisa mengubah takdir, semakin ia menyimpan semakin ia terluka parah namun senyum di bibir Chacha selalu mereka untuk Oki, pria yang teramat ia cintai namun ia memilih mengikhlaskan perasaannya.
Seperti memutar lagu yang hanya itu-tu saja, kembali Chaha mengatakan "aku juga sayang kamu, tapi mau gimana lagi ki, kita nggak bisa nyatu dan itu jawabannya, aku tetep sayang kamu, dan kamu udah tahu itu kan?"
Perlahan Oki melepaskan Chacha dari pelukannya, dengan mata dan wajah yang membuat Chacha semakin merasa harus lebih tegar dari sebelumnya. "Cuci muka mu, takut ada yang melihat keadaan kita seperti ini" ucsp Chaca sambil mengelus lembut wajah Oki dab mendaratkan ciuman di kening Oki. Sudah lewat sepuluh menit dari insiden tersebut, tangan mereka masih saling menggenggam entah ada yang ada dipikiran Chacha saat itu, ia hanya ingin saling membahagiakan saat itu. Oki menyalakan seputung rokok dan menghirupnya dalam-dalam. Besok merupakan hari terakhir ia bertemu Chacha sebelum semua memburuk, ia pun ingin terus bersama Chaha hari itu dan tak ingin kehilangan. Apa yang akan terjadi selanjutnya?
Mereka akan menjalani kehididupan mereka masing-masih lalu menenggelamkan diri daru rutinitas yang memaksa mereka melupakan rasa sakit, walau hanya sesaat.

*5 tahun kemudian
…………………………………………………

Tidak ada komentar:

Posting Komentar