Nama: Efi
Septianingsih
NIM: 17710251013
Penelitian dan
Evaluasi Pendidikan
Kelas B
Ini
merupakan suatu kehormatan dan tugas yang diberikan oleh dosen saya
dan rekan-rekan untuk mahasiswa Pascasarjana UNY, dan merupakan
pertama kali saya merefeksikan blog seseorang. Dan seseorang itu
adalah Prof. Dr. Marsigit, M.A. dan mohon
maaf jikalau penulisan atau refleksian saya jauh dari kata baik,
karena jujur saya sendiri merasa gelisah jikalau memiliki kesalahan.
Okey, dibawah ini merupakan hasil dari refleksian saya untuk
pertemuan pertama mata kuliah Filsafat Ilmu, selamat mebaca.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Hari
pertama saya memperlajari mata kuliah Filsafat Ilmu yang benar-benar
membuat saya berpikir dan mencari tahu bagaimana mencerna agar
Filsafat itu sendiri lebih ringan untuk diolah dalam pikiran. Dan
pada hari Rabu tanggal 6 September 2017 merupakan pertemuan
pertama perkuliahan Filsafat Ilmu dengan
dosen pengampu Prof. Dr. Marsigit, M.A. Perkuliahan Filsafat Ilmu
dilaksanakan pada pukul 11.10 s.d. 12.50 di ruang 200B Gedung lama
Pascasarjana.
Diawal
pembelajaran kami awali dengan berdoa menurut agama dan
keyakinan kami masing-masing, dan bagi yang
beragama muslim membaca do Al- Fatihah sedangkan bagi agama lain
diminta untuk menyesuaian. Karena didalam
kelas kami terdapat keyakinan yang berbeda-beda walupun dengan
mayoritas Islam. Dan doa pun
dipimpin langsung oleh Prof. Marsigit, M.A.
Beliau
menerangkan sebagimana yang tertera dalam rekaman, dan perihal
dibawah merupakan review berdasarkan yang beliau sampaikan didalam
kelas.
Setelah
selesai bedoa, Pak Marsigit mengingatkan kami untuk selalu berdoa,
beliau mengingatkan bahwa doa itu terus dan selalu ada sebelum kuliah
dimulai. Dalam berfilsafat sangat penting untuk berdoa karena dalam
filsafat seribu pangkat seribu ngomongan dan
akan sah-sah saja. Menurut para filsuf, Pak Marsigit dan siapapun
boleh menafsirkan filsafat mereka sendiri. Adapun salah satu pendapat
yang mengatakan bahwa filsafat adalah olah pikir.
Segala
sesuatu itu berlandaskan, kita berkuliahpun
berlandaskan, landasan yang paling kokoh dan sangat
penting yaiktu hakiki adalah landasan spiritual. Tiap manusia
memiliki landasan, jangan sampai pikiran kita mengembara tanpa ada
landasan, ibarat layang-layang yang diterbangkan tanpa adanya
landasan yang mengontrol benangnya, maka layang-layang itu akan
hilang tanpa arah. Dan landasan negara Indonesia
adalah Bhineka Tunggal Ika. Landasan dari bawah ke atas dan dari atas
ke bawah (hakiki).
- Oleh karena itu kita harus menghargai keyakinan satu dengan yang lain dan menjaga keaneka ragaman yang sudah ditatapkan.
- Landasan dari bawah ke atas merupakan bertumbuh dan dari atas turun ke bawah mencari hakikinya, yaitu realitasnya dari langit turun ke bumi yaitu kuasa Tuhan yaitu pedoman-pedoman tuntunan melalui kitab.
- Oleh karena itu perilaku kita tidak bisa terlepas dari yang ada dilangit dan apa yang ada dibumi (sebagai perumpamaan seperti resep nasi goreng, resep satu mampu buat 50 nasi goreng. Jangan diubah2 dan bersifat tetap). Serta panjang x lebar = luas itulah hakikinya manusia.
- Hormat dengan orang tua juga merupakan dari langit.
Paradigma
merupakan psikologi, yang merupakan gejala jiwa. Dan paradigma yang
digunakan beliau adalah paradigma membangun, seperti kuliah, belajar,
berkeluarga semuanya bisa dipakai kata-kata “membangun”. Dan
dalam Filsafat adalah membangun ilmu, sebenar-benarnya membangun
adalah jika engkau membangun, dan orang lain hanya terlibat. Oleh
karena itu fungsi beliau bukan pemberi sebagai fasilitator.
Sebenar-benarnya ilmu adalah kacaunya pikiran, awal dari
kacaunya pikiran itu adalah ilmu tapi jangan kacaukan hati.
Jadi janganlah sekali-kali kamu kacaukan hatimu. Sebab satu titik
kekacauan hati merupakan godaan Setan.
Seorang
pemimpin mampu membedakan kacaunya pikiran dan kacaunya hati dsb.
Karena sebenar-benarnya Filsafat adalah dirimu sendiri.
Beliau
memberi kan dua blog untuk mata kuliah filsafat ilmu
- powermathematics.blogspot.co.id
- uny.academia.edu/MarsigitHrd
Media
atau alat untuk filsafat menggunakan “bahas analog”. Bahasa
analog itu lebih tinggi dari perumpamaan, lebih tinggi dari kiasan,
lebih tinggi dari pada konotatif. Sebagai contoh ialah “darah biru”
merupakan makna dari sebenarnya.
Beliau
menyampaikan backbone perkuliahan tersebut.
“Tiadalah ilmu tanpa pertanyaan, maka sebenar-benarnya ilmu adalah
pertanyaan”. Dalam bahasa Jawa benar dan bener
yaitu benar yang hakiki, benar yang absolute, atau benar yang relatif
maka paradigma yang membangun. Manusia punya kecerdasan,
kecerdasan itu dapat berupa intuitif,profesional, kecerdasan
berdasarkan sejarah, logika atau kecerdasan genetika. Landasan dari
kuliah Filsafat Ilmu adalah pertanyaan. Sebanar-benar
hidup adalah membaca, maka seberapa filsafat yang kita bangun
tergantung dari bacaan yang sudah terbaca.
Setelah
penjelasan dari baliau terdapat beberapa pertanyaan, dan salah
satunya dari saya sendiri. Dikarenakan pada pertemuan pertama
tersebut saya baru pertama kali mempelajari filsafat ilmu dan saya
memiliki kebingungan tentang pondasi filsafat, karena untuk saya
pribadi filsafat sendiri merupakan ilmu yang sulit untuk dimengerti
dengan logika, oleh karena itu hati pun harus digunakan agar tidak
tersesat dan seperti yang dikatakan oleh beliau, jangan sampai hati
menjadi kacau.
Berikut
merupakan pertanyaan dari rekan-rekan dalam pertemuan pertama
filsafat ilmu:
No
|
Pertanyaan
|
Jawaban
|
1
|
Membangun konsep filsafat, sedangkan saya sendiri juga baru mempelajari tentang filsafat terutama untuk filsafat ilmu, sedangkan untuk saya sendirimembutuhkan pondasi yang telah disebutkan dalam membangun dan dalam 700 postingan apakah ada tahapannya diblog tersebut?
|
“Tidak ada tahapan karena itu campuran sebab blog susah dimanage. Nah oleh karena itu anda pilih saja pakai search mana kata kuncinya nanti muncul apa. Mau milih spiritual, mau milih matematika, pendidikan nanti muncul apa dipilih aja. Jadi itu bukan hierarki isinya, makanya cari bacaan-bacaan yang anda suka menarik dan sebagainya.Membangun konstrukstif, anda sendiri yang aktif.”
|
2
|
Berawal dari kebingungan saya. Seberapa berpotensi filsafat dalam memecahkan masalah atau bahkan menimbulkan masalah?
|
“Belajar filsafat lain dengan belajar psikologi, lain dengan belajar ilmu-ilmu bidang, lain dengan belajar matematika. Belajar matematikan dari yang belum menggerti menjadi mengerti. Kalau belajar filsafat kamu yang sekarang merasa mengerti nanti jadi tidak mengerti. Makanya saya mengatakan siap-siaplah bingung. Semakin anda bingung semakin baik itu, tapi tetapkan hatimu jangan sampai bingung. Supaya kita tidak bingung di dalam hati, maka setiap saat kita harus berdoa.”
|
3
|
Dikatakan bahwa ilmu akan digunakan bagi orang yang berfikir, tapi kita tahu bahwa akal kita itu memiliki keterbatasan dalam berpikir. Haruskah kita memikirkan hal-hal yang di luar batas kemampuan berpikir kita?
|
“Hubungan antara hati dan pikiran. Nah kita itu bisa tidak hidup kita tanpa pikiran? Mari kita eksperimen. Andai saja kita punya hati saja tapi tidak berpikir. Nah berpikir itu apasih? Berpikir itu mulai dari persepsiberdasarkan panca indra kita. Jadi jika engkau tidak berpikir, engkau tidak menyadarinya. Anda sekarang sedang berbicara dengan siapa? Kalau anda menyadarinya anda bisa menyebut nama saya. jadi kamu ke kampus ini perlu pikiran. Kita masing-masing punya kesadaran. Awal kita berpikir adalah kesadaran. Maka ketika kita tidur tidak lagi sedang berpikir. Maka sebenar-benar hidup adalah engkau tidak sedang tidur secara pikiran. Sebaik-baiknya hidup adalah hidup di dalam pikir dan hidup di dalam doa.”
|
4
|
Bisa nggak seseorang itu memiliki kekacauan hati tapi jernih pikiran?
|
“Kacau hati itu sebenar-benar pikiran syaitan atau dajjal. Hati kacau tapi pikiran jernih, berati dia sadar dengan kekacauannya. Padahal hati yang kacau itu godaan setan. Jernih pikirannya, berati punya skema jangka panjang dong. Jadi secara hati kita tidak mungkin bisa mengalahkan setan, kecuali pertolongan Tuhan. Berati hanya Tuhan yang bisa menolong kacaunya hati.”
|
5
|
Kalau saya boleh menyimpulkan tadi pondasi dalam filsafat adalah spiritual. Petanyaan saya itu menjadi pedoman semua filsuf atau menurut bapak sendiri? Karena kalau saya melihat beberapa tulisan itu dia tidak menyandarkan filsafat pada spiritual tapi pada budaya setempat?
|
“Filsafat itu adalah dirimu masing-masing. Cuma karena entah sengaja atau tidak kau itu bertemu dengan saya, dan anda berguru pada saya. Kan saya ngomong itulah filsafat saya. kalau saya mah filsafat itu berlandaskan spiritual. Jadi kalau belajar filsafat pada orag Yahudi, Majusi, Atheis ya beda. “
|
Dan
perkuliahan diakhiri
dengan saling mohon maaf jika ada kata yang tidak berkenan.
Diingatkan untuk tetap bersemangat
berjuang, berdoa semoga dalam lindungan Tuhan. Keselamatan dalam
dunia maupun akhirat. Jasmani maupun rohani. Pembelajaran diakhiri
dengan berdoa.
Dan demikian pula refleksi pertama
saya mengenai Filsafat Ilmu, semoga saya pribadi tidak kacau hati
untuk mempelajari filsafat.
SemangArt
Tidak ada komentar:
Posting Komentar