Hay,
Lihat bibir itu
Tetap saja mampu tersenyum manis walau terkadang kepalsuan yang diberikan, namun tidak dengan sorot mata itu, dan
Lihat kaki itu
Masih saja melangkah dengan berwibawa
Menapaki setiap jalan yang ingin di arungi
Suara langkah seraya menandakan keberadaan
Entah apa kali ini yang akan dihadirkan
Cahaya atau kegelapan?
Jelas ini bukan yang pertama, namun mengapa selalu serupa
Wajah yang menghiasi
Senyuman manis itu
Tatapan dingin yang mengusik tangan untuk menyentuh lembut wajahnya dan
Membaringkan dipangkuan
Atau mungkin pendaratan kecupan penawar rasa kopi